Sabtu, 09 Februari 2013

Contoh Penelitian Tindakan Kelas


PENELITIAN TINDAKAN KELAS
BIDANG STUDI SEJARAH







 
 




Oleh
XII IPS 6
SMA PANGUDI LUHUR SANTO YOHANES





KATA PENGANTAR


            Puji Tuhan, akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas sekolah yaitu penelitian tindakan kelas (PTK) dengan lancar dan tanpa hambatan yang berarti. Dalam kesempatan ini penulis tentunya tidak sendirian melakukan penyelesaian penelitian, namun banyak pihak-pihak yang terkait yang telah membantu, memberikan dukungan dan harapan sehingga tanpa mengurangi rasa hormat perkenankanlah penulis menyampaikan pengharagaan yang setinggi-tingginya kepada :       Akhir kata tiada yang dapat disampaikan penulis kecuali ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian tindakan kelas ini. Saran dan kritik akan penulis terima sebagai acuan perbaikan di masa yang akan datang. Terima kasih.

Ketapang, Agustus 2012

Peneliti


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
            Peranan pendidikan di Indonesia menjadi prioritas utama, secara jelas di dalam UUD 1945 pada pasal 31 ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah mengusahakan dan penyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang sejarah, sejalan dengan hal tersebut GBHN 1988 dinyatakan peranan pendidikan nasional yang kaitannya dengan sejarah yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras. Selain itu yang perlu digaris bawahi adalah bahwa pendidikan nasional harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta tanah air (nasionalisme) dan mempertebal semangat kebangsaan (patriotisme).
Dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional setiap 10 tahun sekali selalu dilakukan penyempurnaan atau revisi kurikulum seperti tahun 1975, 1984, 1994, suplemen 1999, 2004 (berbasis kompetensi) dan saat ini menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP 2006) dimana didalamnya terdapat perubahan materi dalam pembelajaran sejarah
Suatu pernyataan yang sangat fenomenal dari Presiden Sukarno bahwa ”bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai sejarah perjuangan bangsanya”. Ungkapan yang begitu bijaksana apabila dikaji secara mendalam mengandung pengertian Verstehen dan Erleben ( Kartodirjo, 1993) yaitu menyelami dalam membuka tabir kebenaran masa silam. Jastifikasi sejarah dalam perjalanan suatu bangsa dengan sendirinya akan membentuk karakter dan kepribadian yang sesuai dengan jiwa jaman tersebut.



1


Barangkali sejak kita berada di bangku SD pelajaran sejarah adalah mata pelajaran yang membosankan, pada masa itu kita akan bertanya, mengapa kita belajar sejarah? Mengapa kita harus mempelajari masa lalu? Bahkan sampai pernyataan ekstrim yaitu apa gunanya kita belajar sejarah? masa lampau yang sudah lewat tidak perlu diteliti atau dipelajari.
Perlu diuraikan kendala-kendala umum dalam pembelajaran sejarah yaitu; (1) doktrin patent pembelajaran sejarah sejak kita di bangku SD sampai dengan SMA tidak terlepas dari 4 W + 1 H ( why, when, where, who dan how) (2) materi masa lampau yang sangat luas meliputi seluruh aspek kehidupan penting manusia di dunia (3) metode pembelajaran cenderung didominasi oleh ceramah (4) ketidakseimbangan jumlah jam tatap muka dengan materi yang ada (5) kurikulum yang selalu berubah-ubah (6) siswa kurang berminat membaca cerita sejarah (7) tidak memadainya sumber-sumber tertulis maupun tidak tertulis (8) sejarah adalah ilmu sosial selalu dipandang sebelah mata sebagai mata pelajaran kelas dua setelah eksakta
Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran sejarah dalam hal ini siswa SMA PL St. Yohanes salah satunya dilatarbelakangi oleh faktor kurang kreatifnya guru, juga tidak tersedianya sarana dan prasarana pendukung. Dari data evaluasi hasil ulangan semester dan ujian blok semester I pada mata pelajaran sejarah standar ketuntasan adalah 70 kelas X, kurang lebih 27.5% tidak tuntas ( Σ : 220 siswa ), kelas XI  30.5 % tidak tuntas ( Σ : 230 siswa ) kelas XII 36.2% tuntas ( Σ : 223 siswa ) ini berdampak pada kontinuitas kualitas belajar siswa di SMA PL St. Yohanes
Kurikulum terbaru 2006 memberikan strategi  kepada pengajar bagaimana supaya siswa lebih giat memacu dirinya lebih kreatif dan inovatif, begitu pula pendekatan yang dilakukan dalam  strategi belajar mengajar sehingga  hasil belajar siswa ranah kognitif, dan afektif dapat sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.
Dalam pengajaran sejarah siswa harus dapat membangun pemikiran yang kritis analisis dari interpretasi kebenaran fakta dan data secara benar baik pada ranah kognitif, maupun afektif ( Hariyono, 1998)

2
 Pada masa berlakunya kurikulum tahun 1984-an  yang pada waktu itu menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nugroho Notosusanto pernah dicoba mata pelajaran baru cabang sejarah yang lebih menekankan aspek kognitif dan afektif yaitu PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) namun dihapus pada suplemen kurikulum 1994. Sebagian orang mengatakan pembelajaran sejarah cenderung hanya ingatan, dan hafalan,  guru selalu mengidolakan metode ceramah sebab bercerita lebih tepat untuk kajian masa lalu.  Pada prinsipnya guru-guru sejarah kesulitan menentukan formula (teknik, metode, dan pendekatan) yang sesuai untuk materi tertentu.
Secara umum dimanapun pembelajaran sejarah hanya bersumber pada buku paket untuk dibaca atau LKS untuk dikerjakan secara naratif tanpa diberikan bukti konkrit visual berupa gambar, foto, dan peta. Sehingga pemahaman sejarah hanya sebatas ingatan tanpa bisa menyelami peristiwanya; sebagai contoh pada tahun 1944 Jepang melakukan praktek romusya terhadap rakyat Indonesia, siswa hanya memahami bahwa romusya adalah kerja paksa tetapi tidak mengetahui bentuk  kerja paksa yang bagaimana?, seperti apa paksaan itu? Pemahaman ini menjadi bias jika tidak ada visualisasi, siswa hanya menjadi imajiner-founding (Notosusanto, 1985).
Keadaan di atas akan membawa dampak yang tidak menguntungkan dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran sejarah dan semestinya dicarikan pemecahan alternatif yang paling efektif dan efisien atau solusi sebagai pelaksanaan perbaikan metode atau pendekatan pembelajaran beserta teknik dan bentuk yang sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa.
Dalam rangka peningkatan hasil belajar sejarah dengan pendekatan pembelajaran efektif, efisien dan terpadu disesuaikan dengan proses dan kemampuan siswa diantaranya dengan mengadopsi model Picture to Picture dan Examples on Examples namun peneliti mencoba untuk menampilkan model pembelajaran dengan gaya Pictures and Student Active (PaSA) On Board Stories and Pictures Stories.


3
 Dalam pendekatan pembelajaran CTL metode Pictures and Student Active diharapkan siswa dapat menkonstruk secara kognitif, dan afektif dengan daya kreasi serta menganalisis secara kritis terhadap visualisasi. Konsep utama dari Picture and Student Active adalah Know How to Know (mengetahui bagaimana harus mengetahui) Dengan demikian muncul suatu pernyataan bahwa “Siswa akan lebih mudah memahami gambar peristiwa sejarah daripada membaca, tetapi tanpa membaca akan sulit untuk mendeskripsikan gambar”  Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :

B. Rumusan Masalah
1. Apakah penggunaan metode Pictures and Student Active dapat meningkatkan hasil belajar ranah kognitif?
2. Apakah penggunaan metode Pictures and Student Active dapat meningkatkan hasil belajar ranah afektif?
3. Bagaimakah minat siswa terhadap metode Pictures and Student Active !
4. Bagaimanakah hasil belajar siswa terhadap uji kemampuan pemahaman analitis visualisasi (gambar-gambar)

C. Tujuan Penelitian
      Dari rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan mencari gambaran yang sekaligus menjawab permasalahan  penelitian dengan paparan deskripsi tentang :
  1. Peningkatan hasil belajar ranah kognitif
  2. Peningkatan hasil belajar ranah afektif
  3. Minat siswa terhadap metode Pictures and Student Active
  4. Hasil belajar siswa terhadap uji kemampuan pemahaman analitis visualisasi (gambar-gambar)

4

Dari tujuan penelitan di atas, maka manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:

D. Manfaat penelitian
1. Bagi siswa :
·         Membantu siswa mencapai kompentensi diri dalam menuntaskan materi pembelajaran sejarah
·         Membantu siswa meningkatkan hasil belajar ranah kognitif, afektif dalam pembelajaran sejarah
·         Membantu siswa memahami konsep, kejadian, peristiwa, fakta, data dan interprestasi serta kebenaran sejarah lewat gambar-gambar
·         Konstruktif dalam menelaah eksistensi masa lalu, menghargai perjuangan dan hasil kebudayaan masa lampau lewat visualisasi.
·         Membangun keberanian mengungkapkan fakta sejarah, kritis pada setiap peristiwa masa lampau
      2. Bagi Guru :
·         Meningkatkan pengetahuan dan pengalaman tentang penelitan tindakan kelas
·         Mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan secara komprehensif dengan berbagai pendekatan dan penilaian
·         Memotivasi untuk selalu exsplorasi dalam teknik, metode dan model pembelajaran yang kreatif serta inovatif dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa

E. Hipotesis Tindakan
            Proses dan hasil belajar sejarah akan meningkatkan ranah kognitif dan afektif peserta didik kelas XII IPS 6 SMA PL St. Yohanes melalui pendekatan CTL dengan model PaSA (Pictures and Student Active) pada konsep masyarakat pra sejarah Indonesia
5

F. Ruang Lingkup Penelitian
1. Penelitian ini dilakukan pada kelas XII IPS 6 SMA PL St. Yohanes yaitu konsep pembelajaran visual  dengan materi masyarakat prasejarah Indonesia.
2. Aspek yang diteliti adalah kemampuan ranah kognitif dan afektif visualisasi gambar prasejarah, membuat kreasi cerita bergambar serta tahap kritis analitis guna meningkatkan ranah kognitif dan afektif dari hasil belajar berupa LKS dengan gambar, ulangan harian, post tes, tugas individu serta kerjasama kelompok selama proses pembelajaran
3. Strategi yang dipergunakan adalah model PaSA (Pictures and Student Active) On Board Stories and Pictures Stories
           

















6
BAB II
KAJIAN TEORI DAN PUSTAKA

A. Pengajaran Sejarah Pada Kurikulum 1994
            Sesuai dengan GBPP 1994 bahwa ruang lingkup pengajaran sejarah untuk jenjang SMA/MA/SMK meliputi substansi yang sangat luas yaitu pada sejarah nasional dimulai dari perkembangan prasejarah, jaman Hindu-Budha, masa kejayaan Islam, masuknya kekuatan asing, perlawanan terhadap dominasi asing, pergerakan nasional, masa pendudukan Jepang, upaya mengisi kemerdekaan, masa demokrasi terpimpin, Orde baru dan ditambah dengan masa reformasi (Sejarah kelas 1 dan 2, Erlangga. 1994). Sedangkan untuk substansi sejarah dunia meliputi perkembangan peradaban dunia masa prasejarah di Asia dan Eropa, perkembangan peradaban timur tengah, Amerika dan Afrika, peristiwa-peristiwa di Eropa abad 17-19, perkembangan faham-faham baru di Eropa, perkembangan tata hubungan dunia setelah perang dunia II dan perkembangan dan penerapan IPTEK  serta masalah lingkungan hidup (Sejarah kelas 3 Yudistira. 2000)  Kurikulum pendidikan nasional senantiasa harus sejalan dengan tujuan pengajaran nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa (Pembukaan UUD 1945 alenia 4)
            Sangat luasnya materi pelajaran sejarah membuat pembagian substansi sejarah harus benar-benar ditinjau secara proposional karena data dan fakta sudah terjadi ratusan tahun bahkan ribuan tahun (Hariyono, 2001). Kurikulum 1994 memberikan landasan yang kuat tentang kronologis sebuah cerita sejarah. Ruang dan waktu dalam pembelajaran sejarah memungkinkan siswa untuk verstehen dan erleben (menyelami dan mendalami. Kartodirdjo, 1993). Konsep pembelajaran sejarah yang tertuang dalam kurikulum 1994 secara implisit mengisyaratkan kepada guru bidang studi sejarah agar lebih aktif dalam meningkatkan kegiatan pembelajaran, hal ini disebabkan karena luasnya materi dan sedikitnya jumlah jam mengajar kira-kira 2 jam/minggu dan harus terselesaikan dalam tempo satu semester.

7
Berdasarkan sebaran materi kurikulum 1994 pada pelajaran sejarah, maka kondisi obyektif pengajaran sejarah di kelas lebih banyak pada ceramah bervariasi, mengapa? Karena siswa kurang menyadari pentingnya buku pegangan untuk menunjang proses analisis peristiwa masa lampau. Guru sebagai center teach semestinya siswa sebagai pusat pembelajaran. Dalam hal ini pendekatan pembelajaran mutlak diperlukan guru untuk kreatif dalam penyampaian materi lebih mendalam, berikut adalah intisari dari pendekatan pembelajaran kontekstual

B. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
            Menciptakan masyarakat belajar bukanlah hal yang mudah apalagi jika ini dikaitkan dengan hasil pembelajaran di sekolah. Siswa bukan sebagai obyek dari transfer ilmu melainkan sebagai subyek yang harus menggali, mendapatkan serta menguraikan ilmu. Siswa dituntut mandiri dalam memecahkan masalah, menganalisis lingkungan, melakukan adaptasi sosial dan menjembatani setiap permasalahan dalam kehidupan. Proses pembelajaran akan lebih bermakna apabila siswa sendiri yang menemukan jawaban atas permasalahan ilmu. Komunikasi verbal, hafalan, daya ingat mungkin membantu dalam kehidupan nantinya tetapi tanpa dibekali, skill, ability dan inquiry dalam memecahkan masalah mustahil hidupnya akan bermakna.
            Contexual Teaching and Learning (CTL) adalah pendekatan proses belajar mengajar dalam rangka mencari produktifitas pembelajaran. Standarisasi kurikulum sebagai acuan atau rambu-rambu pembelajaran harus dukembangkan dengan strategi belajar yang baik artinya CTL senantiasa berkembang mengikuti trend sistem pendidikan. Pendekatan CTL adalah pendekatan pembelajaran yang memiliki tujuh (7) komponen yaitu : (1) Constructivism, (2) Questioning, (3) Inquiry (4) Learning Community (5) Modelling (6) Reflection) dan Authentic Assessment (Kasbollah, 2002).



8
            Pendekatan di atas adalah landasan membangun kerangka berfikir, dimulai dari fakta, data dan konsep. Siswa harus mampu mengkonstruk pikirannya melalui pengalaman ilmu dan pengamatan sosial terutama kegiatan pemecahan masalah. Siswa harus dapat menemukan jawaban dari setiap permasalahan dengan kreatif, inovatif membangun dirinya agar berguna bagi orang lain disekitarnya, seperangkat fakta, data dan konsep dirangkai menjadi kesatuan yang memiliki makna.
            Siswa akan menjadi inovatif dengan ketrampilan ingin selalu mengetahui hal-hal yang tersamar. Guru senantiasa membimbing, mendorong serta membuat penilaian pola-pola pikir siswa, bagaimana siswa menggali informasi, apakah yang telah mereka ketahui dan yang belum diketahui. Ketrampilan dalam menemukan pengetahuan harus melibatkan orang lain terutama kerjasama di kelas.
            Kerjasama di kelas dalam proses pembelajaran memungkinkan terjadinya interaksi afektif dan psikomorik karena saling berkomunikasi, memperoleh informasi dan memberikan alternatif pemecahan masalah sehingga proses belajar dan pembelajaran tercapai dengan maksimal serta mengoptimalkan hasil yang diperoleh dengan merespon semua hal yang diketahui kemudian dikaryakan dalam bentuk hasil baik catatan, jurnal maupun pendapat sehingga bentuk penilaian terhadap siswa lebih akurat.

C. Visualisasi dalam Proses Belajar dan Pembelajaran Sejarah
            Visual dalam seni rupa berarti penglihatan (Art and Design, 1995). Pandangan juga dapat berarti melihat, Visualisasi adalah upaya untuk mendeskripsikan bias menjadi nyata (Kuncoro, 2001) menerjemahkan keadaan semu menjadi suatu bentuk yang real, nyata dan dapat dirasakan. Penulis mencoba menterjemahkan visualisasi dalam proses belajar dan pembelajaran sejarah mengandung pengertian sebagai bentuk cerita bergambar yang dimanifestasikan pada sebuah alur cerita dalam bentuk rangkaian gambar bermakna serta kronologis.


9

            Fakta dan data sejarah didapatkan dari berbagai nara sumber baik primer yaitu saksi hidup sejaman serta buku utama yang dapat dijadikan proyeksi sejarah (Kartodirdjo, 1993). Sepengetahuan kita mulai dari tingkat dasar (SD) sampai tingkat atas (SMA) pelajaran sejaraha jarang menampilkan visualisasi yang kronologis padahal yang utama dari pembelajaran sejarah adalah menampilkan seakurat mungkin data dan fakta.
            Siswa harus dapat menghadirkan dokumentasi fakta dan data secara jelas, obyektif dan kronologis sehingga daya kritis terhadap permasalahan masa lampau menjadi lebih akurat. Gooschalk (1985) dalam bukunya Understanding History : a primer of historical method mengatakan bahwa sejarah bukanlah imajinasi tetapi hasil dari kreasi bangunan fakta yang disusun berdasarkan alur peristiwa dan dikembangkan oleh sejarawan dalam berbagai bentuk diantaranya adalah cerita bergambar.
            Historiografi dalam pembelajaran sejarah terbentuk dari heuristik lapangan, sehingga proses belajar dan pembelajaran sejarah pengkajian masa lampau harus dilengkapi dengan alat-alat nalitis, konseptual dan teoritis (Burke, 1980). Alangkah menyenangkan apabila dalam proses belajar di kelas siswa dibekali dengan teori dan fakta lapangan, jika kita menceritakan tentang perang dunia II, maka semestinya guru dapat menghadirkan gambar jalannya perang, tokoh yang terlibat dan visualisasi lainnya yang mendukung pembelajaran tersebut. Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang jurusan pendidikan Sejarah memiliki laboratorium sejarah masa purba. Dalam kaitannya dengan pembelajaran kebudayaan masa lampau adalah bagaimana mengenal kondisi masa masyarakat prasejarah secara konstruk dan nyata (Katalog FPIPS, 1995). Guru sejarah dalam memvisualisasikan materi pelajaran senantiasa harus memiliki imajinasi sejarah yang dapat membuat siswa memasuki masa tersebut. Walaupun demikian unsur-unsur subyektif akan selalu  ada dalam membuatan visualisasi, guru dapat membuat deskripsi atau gambaran tentang apa yang akan dibuatnnya
10

D. Konsep ”To Know How to Know” pada Pelajaran Sejarah
            Ilmu sejarah seperti ilmu-ilmu lainnya mempunyai unsur yang merupakan alat untuk mengorganisasi seluruh tubuh pengetahuannya serta merekontruksi pikiran yaitu metode sejarah (Kartodirdjo, 1993). Konsep How to know pada sejarah sebenarnya berkaitan dengan bagaimana orang memperoleh pengetahuan tentang sejarah, tetapi pada konsep to know how to know berkaitan dengan cara mengetahui bagaimana harus mengetahui, jadi kita mengetahui sejarah tetapi bagaimana sejarah dapat kita ketahui. Contoh dalam mempelajari proklamasi 17 Agustus 1945 kita mengetahui tanggal, bulan dfan tahun  tersebut adalah hari kemerdekaan RI, tetapi kita juga harus mengetahu, memahami serta menganalisis, mengapa tanggal 17 Agustus dijadikan hari kemerdekaan.
            Konsep To Know How to Know  pada pembelajaran sejarah akan lebih mampu melalukan eksplanasi daripada membatasi diri pada pengungkapan bagaimana sesuatu terjadi sebagai narasi fiktif (Kuntowijoyo, 1994). Suatu peristiwa harus dapat digambarkan secara lebih mendalam mengenai bagaimana terjadinya, latar belakang apa yang melandasi lahirnya peristiwa tersebut. Perkembangan ilmu sejarah di Indonesia dipengaruhi oleh nation building yang menuntut rekontruksi sejarah secara nasional dimana akan mewujudkan kristalisasi bangsa atau Indonesia-sentris (Kuntowijoyo, 1994).
            Berfikir mengenai masa lalu secara obyektif tampaknya banyak diabaikan oleh orang karana mereka tidak mampu untuk menerima segala sesuatu begitu saja (taken for granted) sehingga unsur-unsur subyektifitas menyertai dalam setiap historiografi.Dalam menghadapi fenomena histories yang kompleks, setiap penggambaran sejarah diperlukan pendekatan yang memungkinkan penyaring data dengan seleksi terhadap konsep, fakta dan kondisi obyektif saat ini, peta peristiwa digunakan sebagai analitis pembelajaran sejarah yang kemudian digambarkan dalam model pembelajaran sejarah secara terpadu (Panyarikan, 1998).

11
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
            Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif karena pendekatan ini berupaya mengkaji lebih mendalam tentang penggunaan model PaSA (Picture and Student Active) On Board Stories and Pictures Stories dalam rangka peningkatan ranah kognitif dan afektif siswa pada proses belajar memahami masyarakat prasejarah Indonesia. Pendekatan ini sesuai dengan penelitian tindakan kelas karena memenuhi kriteria penelitian kualitatif karena  Moleong (1994) dalam bukunya Metodologi Penelitian Kualitatif menyebutkan sebagai berikut: (1) peneliti sebagai instrument utama yaitu peneliti sebagai pengumpul data dan menganalisis data dimana peneliti terlibat langsung dalam penelitian (2) peneliti akan menyelidiki dan memaparkan data apa adanya di lapangan (3) hasil penelitian bersifat deskriptif karena data-data yang terkumpul hanya berupa kata-kata atau kalimat, bukan angka-angka
            PTK atau Classroom Action Research adalah penelitian berbasis kelas atau sekolah, dimana dalam PTK terdapat tindakan untuk perbaikan kegiatan pembelajaran maupun peningkatan mutu pembelajaran di kelas (Kasbollah, 1999). Intinya dari penelitan tindakan adalah adanya tindakan dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan praktis pengajaran. Penetian tindakan kelas bermuara pada persoalan-persoalan yang dihadapi guru di kelas (Susilo, Herawati.2003) Dalam penelitian ini masalah yang terjadi adalah kurang minatnya siswa pada pelajaran sejarah, mereka jenuh karena guru hanya bercerita, mencatat konsep, menghafal fakta sehingga pemahaman sejarah kurang berarti yang ditandai dengan penurunan kualitas hasil belajar siswa. Kondisi ini diperlukan pemecahan, sehingga dengan penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pembelajaran dalam memahami konsep sejarah khususnya masyarakat prasejarah Indonesia.

12

PTK ini dilakukan oleh guru bidang studi yang merangkap sebagai penelitidibantu oleh guru lain pada rumpun yang sama serta pengamatdari guru lain.Tindakan dibatasi pada model dan teknik dalam proses pembelajaran melalui pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) dengan model PaSA (Picture and Student Active). On Board Stories and Pictures Stories
Sejalan dengan pendekatan kualitatif, peneliti mencoba mengembangkan 5 komponen konsep pembelajaran melalui model PaSA On Board Stories and Pictures Stories yaitu : (1) Seeing (2) Describing (3) Learning (4) Analyzing dan (5) Knowing. Kelima komponen tersebut bermuara pada Know How to Know  yaitu selama proses pembelajaran siswa arahakan untuk selalu menahami, kritis untuk mengetahui serta berpartisipasi aktif.
      Desain penelitian menggunakan model Kemmis dan M.C Taggart (1989)  yaitu (a) perencanaan (b) tindakan (c) observasi dan (d) refleksi.

B. Kehadiran Peneliti          
Berdasarkan pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti sangat diperlukan karena peneliti bertindak sebagai desainer tindakan, observer, explainer dan pengumpul data. Peneliti membuat desainer pembelajaran selama berlangsung penelitian. Moleong (1994) juga mengutarakan  bahwa kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai desainer, pelaksana, pengumpul data, analisis, penafsir dan pelapor hasil penelitian.
Pada pelaksanaan penelitian tindakan kelas, para observer dari satu rumpun dan guru lain dilibatkan untuk memberikan masukan hasil penelitian sehingga dapat memperbaiki proses pembelajaran.




13

C. Tempat dan Waktu Penelitian
            Penelitian dilaksanakan di kelas XII IPS 6 SMA PL St. Yohanes semester I tahun pelajaran 2012/2013. Peneliti bertugas sebagai guru pengajar di kelas tersebut. Penelitian berlangsung 3 bulan (Agustus-Oktober 2012)

D. Data dan Sumber Data
            Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi : (1) lembar kerja siswa, gambar peta persebaran manusia dan kebudayaan masyarakat prasejarah (2) LKS cerita gambar yang tersusun dari hasil analisis kelompok dan individu dalam berbagai versi (3) hasil pengamatan proses belajar mengajar, diskusi kelompok, presentasi lisan dan diskusi kelas.(5) catatan lapangan (6) dokumentasi. Sumber data adalah siswa kelas XII IPS 6 SMA PL St. Yohanes tahun pelajaran 2012/2013 dengan jumlah siswa 38 siswa.

E. Instrumen Penelitian
            Pengumpulan data pada penelitian ini meliputi :
1. Instrumen Pengumpulan Data
A. Alat Pengumpulan Data
            Alat pengumpulan data berupa :
1. Tes
            Tes adalah alat penilaian dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada seseorang dengan jawaban tertentu baik dalam bentuk lisan, tulisan maupun perbuatan (tindakan). Tes sebagai alat ukur hasil belajar di sekolah utamanya berkaitan dengan sejauhmana siswa telah menguasai materi sesuai dengan harapan yang diinginkan. Tes di kelas bagi siswa berhubungan erat dengan aspek kognitif, psikomotorik dan afektif. Instrumen tes pada penelitian ini disusun dalam 2 siklus berupa ulangan harian yang masing-masing siklus berjumlah 20 soal obtektif.

14

2. Post Tes
            Post tes pada penelitian ini adalah pertanyaan-pertanyaan quiz yang harus dijawab spontan oleh siswa. Siswa harus menjawab dengan kecepatan daya kognitifnya. Nilai post tes ini diharapkan dapat memotivasi siswa dalam proses pembelajaran, sekaligus sebagai standar nilai  untuk menentukan nilai hasil belajar.

3. Lembar Penilaian Proses Belajar
            Lembar penilaian proses belajar dipergunakan untuk menilai siswa dalam ulangan harian, quiz, tugas,  proses diskusi kelompok, diskusi kelas, dan presentasi lisan. Lembar penilaian ini berupa format-format penilaian proses belajar mengajar.

B. Metode Pengumpulan Data
1. Observasi
            Pengamatan dilakukan untuk melihat langsung aktifitas siswa selama proses pembelajaran. Observasi memungkinkan untuk mengetahui kesesuaian antara harapan dan kenyataan dari penelitian tindakan kelas. Observasi dilaksanakan secara komprehensif dalam kelas.
            Pengamatan dilakukan oleh teman serumpun dan guru lain dengan berpedoman pada format pengamatan menyeluruh (lihat lampiran).  Aspek-aspek dalam pengamatan meliputi: perilaku siswa waktu belajar, kegiatan diskusi siswa, partisipasi siswa dalam presentasi dan diskusi. Sehingga dapat diketahui secara jelas bagaimana aktifitas siswa selama proses pembelajaran.

2. Catatan lapangan
            Catatan lapangan dalam pembelajaran bertujuan untuk memperoleh data yang akurat dan obyektif apa adanya, sehingga hal-hal yang tidak terekam dalam observasi dapat dilakukan dengan catatan lapangan sebagai bahan pertimbangan perbaikan dan follow up tindakan selanjutnya.
15

3. Tahap-tahap Penelitian
            Sebelum penelitian ini dilakukan dlaksanakan pertemuan dengan rumpun.
  1. Menentukan kelas yang akan digunakan untuk penelitian
  2. Menentukan dan menyusun rencana pembelajaran
  3. Menentukan topik pembelajaran yang sesuai dengan metode Picture and Student Active serta untuk lebih fokus lagi menentukan kelas mana yang akan dijadikan obyek penelitian.
  4. Menyusun visualisasi materi dengan proyeksi gambar-gambar apa saja yang relevan dengan tujuan pembelajaran ranah kognitif, dan afektif.

a. Perencanaan siklus I
Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus minggu ke-3 tahun 2012
Tahap perencanaan meliputi :
  1. Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP) sejarah
  2. Kelas yang dipergunakan untuk penelitian adalah kelas XII IPS 6 SMA PL St. Yohanes dengan jumlah 38 siswa
  3. Pokok bahasan adalah Masyarakat Prasejarah Indonesia dengan sub pokok bahasan jaman Paleolithikum, Mesolithikum, Neolithikum, Megalithikum, jaman Besi dan Perunggu serta persebaran manusia purba Indonesia.
Model PaSA adalah mengoptimalkan peran siswa sebagai individu dalam kelompok diskusi lewat media gambar atau visual.
Kegiatannya adalah sebagai berikut :
  1. XII IPS 6 dibagi ke dalam 6 kelompok heterogen (setiap kelompok 7-8 siswa) Sub pokok bahasan  adalah persebaran kebudayaan masa prasejarah (jaman batu ) di Indonesia. Kelompok 1 : Paleolithikum, Kelompok 2: Mesolithikum, Kelompok 3 : Neolithikum, Kelompok 4 : Megalithikum, kelompok 5 jaman Basi dan Perunggu serta kelompok 6 Penemuan manusia purba Indonesia di pulau Jawa.
16
  1. Setiap kelompok mendeskripsikan gambar peta berdasarkan referensi buku, Atlas Kemudian membuat deskripsi utuh mengenai sub pokok bahasan tersebut.
  2. Pada saat pembelajaran, masing-masing anggota kelompok saling mempelajari l (satu) gambar peta dan menunjukan hasil-hasil persebaran budaya dengan menempelkan tanda-tanda tertentu di peta.
  3.  Tanda tanda tersebut diperjelas pada saat presentasi di depan kelas.
  4. Peneliti memandu jalannya diskusi sementara siswa lain dapat mengajukan pertanyaan, atau mengomentari kelompok presentasi dengan membuat rekaan interpretasi permasalahan melalui analisisnya.
Pada tahap evaluasi meliputi :
a.                Mengevaluasi kognitif siswa dengan cara memberikan post test dalam bentuk pertanyaan quiz.
b.                Mengumpulkan gambar-gambar peta sebagai alat evaluasi dalam mengukur sejauhmana peningkatan ranah kognitif siswa.
c.                Pada saat pembelajaran ini guru menggunakan penilaian individual dan kelompok yang mengacu pada ranah afektif serta ranah kognitif. (Penilaian lihat lampiran)
d.               Semua kegiatan PTK di kelas XII IPS 6 baik observasi, analisis serta evaluasi direkam oleh peneliti sebagai follow up untuk mendapatkan gambaran hasil tindakan dan juga sebagai bahan releksi siklus 1
Hasil refleksi siklus 1 digunakan untuk membuat perencanaan siklus 2,

b. Perencanaan pada siklus 2
Penelitian dilaksanakan pada bulan September minggu ke 3 tahun 2013
Tahap perencanaan meliputi :
  1. Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP) sejarah
  2. Kelas yang dipergunakan untuk penelitian adalah kelas XII IPS 6 (38 siswa)
17

  1. Pokok bahasan adalah Tradisi Prasejarah Masyarakat Indonesia dengan kegiatan sebagai berikut :
1        Kelas XII IPS 6 dibagi ke dalam kelompok yang lebih kecil namun tetap heterogen (setiap kelompok berjumlah 4-5 siswa) Sub pokok bahasan  adalah Tradisi Prasejarah masyarakat Indonesia meliputi hasil budaya dari jaman peleolithikum sampai dengan jaman logam.
2        Setiap kelompok mendeskripsikan suatu cerita bergambar Tradisi Prasejarah masyarakat Indonesia meliputi hasil budaya dari jaman peleolithikum sampai dengan jaman logam.
3        Kemudian membuat deskripsi utuh mengenai cerita bergambar tersebut.
4        Pada saat pembelajaran, masing-masing anggota kelompok saling mempelajari satu gambar dan membuat kesimpulan dari cerita tersebut kemudian mendiskusikan hasilnya
5         Setelah mendeskripsikan alur cerita kemudian mempresentasi di depan kelas.
6        Peneliti memandu jalannya diskusi sementara siswa lain dapat mengajukan pertanyaan, atau mengomentari kelompok presentasi dengan membuat rekaan interpretasi permasalahan melalui analisisnya.
Pada tahap evaluasi meliputi :
a.                Mengevaluasi kognitif siswa dengan cara memberikan post test dalam bentuk pertanyaan quiz
b.                Mencari kata-kata kunci historis, aspek kemanusian dan pengalaman hidup dalam cerita bergambar tersebut  sebagai alat evaluasi dalam mengukur sejauhmana peningkatan ranah afektif siswa.
c.                Pada saat pembelajaran ini guru menggunakan penilaian individual dan kelompok yang mengacu pada ranah afektif serta ranah kognitif.
d.               Semua kegiatan PTK di kelas XII IPS direkam oleh peneliti sebagai follow up untuk mendapatkan gambaran hasil tindakan dan releksi.

18

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Tahap Pendahuluan
            Sebelum penelitian ini dilaksanakan, pada tanggal 5 dan 6 April peneliti bersama bapak dan ibu guru dalam satu rumpun  melakukan pertemuan awal. Pertemuan ini dihadiri oleh anggota rumpun yang terdiri atas Bapak Teguh, Ibu Gunarti dan Ibu wiwik dengan hasil adalah
 (a). pertengahan  bulan Agustus 2012 melakukan persiapan dan pembuatan proposal penelitian tindakan kelas yang berlangsung kurang lebih 3 minggu
(b). Kelas yang akan digunakan untuk penelitian adalah kelas XII IPS 6 SMA PL St. Yohanes dengan jumlah 38 siswa
(c). menentukan dan menyusun rencana pembelajaran yang disesuaikan dengan perjalanan materi semester 2, peneliti telah sampai pada materi masyarakat pra sejarah Indonesia
(d). Masyarakat pra sejarah Indonesia adalah topik pembelajaran yang paling sesuai dengan metode Picture and Student Active karena lebih fokus pada visualisasi gambar-gambar
(e). menyusun visualisasi materi dengan proyeksi gambar-gambar apa saja yang relevan dengan tujuan pembelajaran ranah kognitif, dan afektif.
Walaupun penelitian tindakan kelas bersifat individual namun kerjasama rumpun sangat diperlukan mengingat penelitian ini tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan dan kerjasama dengan anggota rumpun. Peneliti bersama rumpun  melakukan penelaahan materi gambar dalam rangka Picture and Student Active, harapannya adalah agar kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan maksimal.

19

 Persiapan media dan sumber belajar juga dilakukan untuk membatasi ruang lingkup penelitian, misalnya buku paket, atlas, visualisasi gambar dan lain-lain. Mengingat dalam penelitian tindakan kelas terdapat observer (pengamat) maka dibuat juga format observasi untuk memudahkan pengamat melakukan penilaian dan refleksi perbaikan di siklus berikutnya.

2. Paparan Data Tindakan
A. Siklus I (On Board Stories)
Rencana Tindakan
Penelitian tindakan kelas pada siklus I (On Board Stories) dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2012, di kelas XII IPS 6 dengan observer Ibu Magdalena Among Materi pelajaran yang disampaikan adalah perkembangan masyarakat prasejarah Indonesia.

Pelaksanaan Tindakan
Paparan data tindakan kegiatan pembelajaran pada pelaksanaan penelitian tindakan kelas siklus I adalah :
  1. Membuka pelajaran dengan salam, kemudian menjelaskan secara singkat kompetensi dasar yang akan dibahas sementara siswa menyimak penjelasan guru
  2. Menjelaskan secara singkat perkembangan kehidupan manusia purba, dimulai dari manusia purba Asia, Afrika, Eropa dan Amerika , menghubungkan teori evolusi dengan manusia purba Indonesia, sementara siswa mendengarkan dan mencatat hal-hal yang penting.
  3. Guru meminta siswa untuk membuat kelompok dengan jumlah maksimal 8 siswa, dalam hal ini dibentuk kelompok heterogen.
  4. Siswa mempersiapkan alat tulis seperti, buku referensi, atlas, spidol warna, kertas warna, gunting, lem dan lain-lain.

20
  1. Setiap siswa diberikan satu lembar kerja (LKS) dan satu format kerja kelompok dengan mendapatkan tugas yang berbeda.
  2. Setiap kelompok menggambar satu peta Indonesia di kertas karton kemudian mengguntingkan lambang tertentu dengan kertas warna kemudian ditempel di daerah atau tempat penemuan budaya prasejarah dengan diberikan penjelasan.
  3. Guru mengawasi jalannya kerja kelompok, memonitor setiap pekerjaaan siswa dan memberikan petunjuk apabila ada permasalahan yang ditanyakan siswa
  4. Pada saat presentasi di depan kelas, setiap kelompok diwajibkan maju dengan dua perwakilan siswa untuk memaparkan data temuannya dengan menempelkan  karton peta Indonesia di papan tulis.
  5. Perwakilan kelompok kemudian menjelaskan hasil temuannya dengan menempelkan simbol berwarna dalam bentuk segitiga, persegi panjang, lingkaran dan lain-lain untuk menunjukan titik-titik penemuan kebudayaan.
  6. Diskusi dimulai dari kelompok satu yang membahas peta penemuan manusia purba di Jawa seperti Pithecan thropus Erectus, Meganthropus Paleojavanicus, Homo Wajakensis, Homo Soloensis dengan menunjukan tempat penemuan manusia purba seperti di Sangiran Solo, Trinil Ngawi, Pacitan dan Mojokerto.
  7. kelompok dua menjelaskan peta penemuan kebudayaan jaman paleolithikum di Indonesia seperti kapak genggam, perimbas, Abris Sousch Roche, Kjokkenmoddinger, dan Flakes
  8. kelompok tiga mendeskripsikan sistem berburu dan meramu masa mesolithikum, penemuan budaya kapak persegi dan kapak lonjong
  9. kelompok empat menjelaskan kehidupan sosial masyarakat jaman neolithikum seperti peralihan dari food gathering ke food producing, kehidupan semi sedenter kepada permanen
  10. kelompok lima mendeskripkan temuan benda budaya megalihikum seperti menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu dan punden berundak
  11. kelompok enam membahas cara kerja jaman logam, teknik a cire perdue dan bivalve, penemuan kapak corong, nekara dan bejana perunggu.
21
  1. Guru berperan sebagai moderator yang mengarahkankan jalannya diskusi sekaligus sebagai jembatan penghubung permasalahan, menilai aspek afektif setiap individu dalam rangka kerjasama siswa antar dan dalam kelompok
  2. Presentasi hasil kegiatan diskusi kelas berlangsung dalam rangka saling memberikan infomasi kepada kelompok lain, dengan umpan balik dan tanya jawab antar siswa kegiatan pembelajaran menjadi semakin hidup.
  3. Setiap siswa diperkenankan untuk bertanya, menyanggah, memberikan masukan, memecahkan masalah  kepada kelompok presentasi.
  4. Akhir diskusi setiap kelompok memberikan kesimpulan akhir yang dibantu oleh guru.
  5. Guru memberikan test berupa pertanyaan quiz untuk mengukur tingkat kemampuan memahami materi (lihat lampiran)

Observasi dan Evaluasi       
Pada penelitian tindakan kelas ini, peneliti dibantu oleh seorang observer yaitu Ibu Magdalena Among. Tujuan observer pada penelitian ini antara lain :
1.      mengamati rangkaian kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir
2.      memberikan masukan tertulis dan lisan berkaitan dengan penelitian
3.      menganalisis setiap siswa untuk merekam sejauhmana model pembelajaran  yang dipakai mempengaruhi ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
4.      memberikan catatan-catatan penting kepada peneliti tentang siswa  di kelas.
5.      membantu peneliti untuk menyempurnakan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian tersebut.
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas di kelas XII IPS 6 SMA PL St. Yohanes dicatat, direkam dan diamati sepenuhnya oleh Ibu Among sebagai Observer (lihat format observasi). Namun tentunya pada siklus I ini jalannya penelitian belum sampai pada tujuan yang diinginkan karena kesempurnaan belum mencapai hasil.
22
Evaluasi pertanyaan quiz boleh dibilang telah mewakili dari keseluruhan substansi, namun pertanyaan obyektif juga diperlukan untuk mencari tingkat kognitif secara utuh. Picture and Studen Active merupakan pengembangan inovasi pembelajaran khususnya pelajaran sejarah yang dianggap sebagai pelajaran hafalan. Dengan model PaSA siswa menjadi lebih antusias dalam pembelajaran.
Dari hasil observasi dan evaluasi bahwa pembelajaran model PaSA sudah baik dan menarik namun pada proses pembelajarannya masih diketemukan hal-hal  yang perlu mendapatkan perhatian berkaitan dengan penelitian tindakan kelas yaitu :
  1. pembagian kelompok terlalu besar sehingga beberapa siswa cenderung kurang memperhatikan proses identifikasi dan presentasi kelompok
  2. penempatan gambar pada lokasi kebudayaan belum mendapatkan proses gambaran persebaran kebudayaan misalnya dengan panah-panah
  3. Model dan metode pembelajaran sudah sesuai dengan materi pelajaran yaitu persebaran kebudayaan prasejarah, tetapi untuk manusia purba kurang begitu sesuai. Untuk materi manusia purba difokuskan pada ciri-ciri fisik dengan disertai gambar manusia purba
  4. sistem presentasi yang dilakukan oleh tiap kelompok lebih difokuskan pada satu sub pokok bahasan, walaupun tiap kelompok diberikan materi yang berbeda-beda.
  5. pembahasan lebih didominasi oleh satu atau dua orang sedangkan anggota lain hanya mengikuti saja.
  6. pembuatan peta Indonesia lebih baik dipergunakan skala supaya lebih akurat posisi persebaran kebudayaan pra sejarah.
  7. Banyak siswa yang pasip karena pembagian lembar kerja tidak efektif
  8. siswa kurang dalam mengajukan pertanyaan atau pendapat pada prentasi yang telah dilakukan kelompok lain.
Semua kegiatan penelitian tindakan kelas di kelas XII IPS 6 baik observasi, analisis, catatan dan evaluasi direkam oleh peneliti beserta observer sebagai follow up untuk mendapatkan gambaran hasil tindakan dan juga sebagai bahan releksi.
23
Refleksi
Dari paparan deskripsi penelitian tindakan kelas siklus I, maka dalam pada refleksi diupayakan perbaikan untuk siklus 2 penelitian tindakan kelas yaitu :
  1. minimalisasi jumlah anggota kelompok antara 4-5 siswa
  2. diberikan ciri fakta gambar, dibuatkan alur cerita bergambar
  3. untuk masyarakat pra sejarah khususnya manusia purba sebaiknya siswa diberikan gambar visual seperti bentuk Pithecanthropus, Meganthropus dan Homo
  4. supaya pembahasan diskusi melibatkan seluruh siswa dalam kelompok itu
  5. peta Indonesia diperjelas dengan keterangan sumber
  6. lembar kerja siswa disiapkan lebih rinci lagi
  7. peneliti supaya lebih antusias memberikan dorongan dan semangat siswa untuk bertanya, menjawab dan memberikan komentar dalam diskusi kelas
















24
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

            Penelitian tindakan kelas (PTK) ini menggunakan model pembelajaran Pictures and Student Active dengan tujuan mendapatkan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan di kelas XII IPS 6 dengan jumlah siswa 38 SMA PL St. Yohanes dengan 2 siklus penelitian. Siklus 1 model Picture On Board dan siklus 2 model Stories Board.
            Pada siklus 1 Picture On Board, kelas dibagi 6 kelompok dengan jumlah 7-8 siswa, membahas tentang masyarakat prasejarah Indonesia, dimana setiap kelompok mengidentifikasi peta penemuan manusia purba serta hasil-hasil kebudayaan jaman paleolithikum, mesolithikum, neolithikum, megalithikum dan jaman besi dengan menempelkan simbol berwarna pada kertas karton di papan tulis yang dilanjutkan dengan diskusi kelas. Siklus 2 Picture stories  kelas di bagi kedalam kelompok kecil untuk membahas gambar-gambar masa prasejarah Indonesia, kemudian siswa secara bebas mengintepretasikan gambar-gambar disusun secara kronolagis waktu.
            Evaluasi dilakukan setiap siklus dengan ulangan harian, tugas terstrukur, hasil diskusi kelas serta  pertanyaan quiz singkat, tujuannya adalah untuk mengetahui sejauhmana hasil belajar dengan model Pictures and Student Active (PaSA) Picture On Board maupun Picture stories mempengaruhi kualitas belajar siswa.  
Hasil evaluasi menunjukan peningkatan hasil pembelajaran sejarah di kelas  XII IPS 6 yaitu evaluasi pada siklus 1 kelas XII IPS 6 SMA PL St. Yohanes yang berjumlah 38 siswa yang tuntas belajar adalah 36 siswa ( 81.81 % )  sedangkan yang tidak tuntas 8  siswa ( 18.18 % ) sedangkan evaluasi pada siklus 2 tuntas 100%. Berarti melalui pendekatan CTL dengan model PaSA (Pictures and Student Active) meningkatkan hasil belajar ranah kognitif dan afektif

25
B. Saran-saran
            Dalam rangka lebih meningkatkan kualitas pembelajaran di SMA Laboratorium UM maka, peneliti mengharapkan :
  1. adanya sumber pembelajaran yang memadai seperti perangkat lunak dan keras audio visual untuk pembelajaran sejarah.
  2. sarana dan prasarana pendukung di kelas seperti gambar-gambar kesejarahan dan, baik  peta nasional maupun dunia
  3. sumber sejarah berupa laboratorium IPS untuk memperdalam siswa mengembangka kemampuan
  4. kerjasama dengan instansi yang terkait seperti museum, perpustakaan umum, perpustakaan UM dan balai-balai konservasi purbakala.
  5. kerjasama dengan rumpun bidang studi lain untuk bertukar pikiran tentang pengembangan model pembelajaran inovatif.
















26
DAFTAR PUSTAKA

----------.1988.Garis-garis Besar Haluan Negara. Jakarta:Sekretaris Negara
Hariyono.1998.Memahami Sejarah dalam Pembelajaran. Malang : IKIP MALANG
Kemmis,S&MC Taggart R.1988. The Action Research Planner. Victoria : Deakin University Press
Kartodirdjo.S.1993. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta : PT.Gramedia
Kasbollah, Kasihani.1999. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru Sains. Malang : RUT VI LIPI.
Moleong, L,J.1994. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Notosusanto, N. 1985. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Suryabrata, S.1992. Metodologi Penelitian. Jakarta : CV Rajawali














29
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;